Light Brown Pointer
^_^ Selamat membaca. Semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat bagi anda yang telah membacanya ^_^

Sabtu, 19 Januari 2013

Contoh Perusahaan yang Menggunakan Sistem DSS

Pengertian DSS
            DSS (Decision Support System) adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasis pengetahuan atau manajemen pengetahuan) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Hal yang perlu ditekankan disini adalah bahwa keberadaan DSS bukan untuk menggantikan tugas-tugas manajer, tetapi untuk menjadi sarana penunjang (tool) bagi mereka. DSS sebenarnya merupakan implementasi teori-teori pengambil keputusan yang telah diperkenalkan oleh ilmu-ilmu seperti operation research dan management science. DSS dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi-terstruktur yang spesifik. DSS merupakan problem solveryang dilengkapi dengan kemampuan untuk menghasilkan laporan-laporanyang periodik dan output dari model matematika. Model matematika dan kecerdasan buatan memungkinkan suatu sistem dapat mengambil keputusannya menentukan alternatif-alternatif solusi (bisa dalam presentasi).
            DSS digunakan manajer untuk memecahkan masalah semi struktur, dimana manajer dan komputer harus bekerja sama sebagai tim pemecah masalah dalam memecahkan masalah yang berada di area semi struktur.
            DSS ini merupakan suatu sistem informasi yang diharapkan dapat membantu manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa keberadaan DSS bukan untuk menggantikan tugas-tugas manajer, tetapi untuk menjadi sarana penunjang (tools) bagi mereka

Contoh Perusahaan yang Menggunakan Sistem DSS

            PT. Telkom adalah salah satu Perusahaan yang menggunakan Sistem DSS. Di dalam era persaingan yang ketat, rencana dalam jangka menengah dan panjang tidak lagi menarik karena tuntutan supply dan demand selalu bergeser dalam periode yang cepat. Decision Support System (DSS) sebagai metode pengambilan keputusan yang taktis untuk pengembangan fasilitas telekomunikasi diperlukan karena perubahan kriteria dan asumsi pendukung yang juga berubah dengan sangat cepat. Di dalam hal ini PT TELKOM membuat  suatu aplikasi yang dapat dipergunakan untuk mempermudah PT. Telkom dalam pengambilan keputusan yang cepat dan akurat yang diambil berdasarkan data dan fakta yang berada di lapangan.
            Aplikasi yang menggunakan Telkom e-service akan membantu pengambilan keputusan karena hasilnya yang bersifat matematis. Sebagai kesimpulan, aplikasi ini akan dapat membantu evaluasi pemilihan pengembangan suatu jaringan akses yang tepat yang akan dikembangkan PT. Telkom, karena Telkom e-service berfungsi juga agar hubungan antara PT.Telkom dan customer terjalin. Dengan adanya Telkom e-service PT.Telkom dapat mengetahui saran-saran yang diberikan oleh customer untuk mengembangkan bisnisnya, apa saja yang harus dilakukan oleh system management PT.Telkom itu sendiri. Terutama saran tentang Telkom Speedy  apakah itu melalui saluran wireless (Flexi) ataukah wireline (Direct Line Cable) .


            Dengan adanya DSS akhirnya PT.Telkom dapat cepat menanggapi keluhan-keluhan pelanggan dan pengambilan perusahaan pun akan lebih efektif dan efisien.
Sehingga dengan menggunakan DSS memberikan keuntungan bagi 2 pihak, baik dari segi PT.Telkom maupun dari segi customer. DSS memberikan keuntungan dari segi customer, karena dengan menggunakan DSS konsumen dapat menyampaikan keluhan-keluhan kepada PT.Telkom secara langsung. Sedangkan dari segi PT. Telkom DSS memberikan keuntungan yaitu, membuat konsumen lebih dengan PT.Telkom (RCM). Dan saran-saran serta keluhan yang diberikan oleh konsumendapat langsung ditanggapi secara tepat. Sehingga PT.Telkom dapat mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang ada pada PT.Telkom.

Visi
To become a leading Telecommunication, Information, Media, Edutainment & Services (TIMES) Player in the Region

Misi
1. To Provide TIME Services with Excellent Quality & Competitive Price.
2. To be the Role Model as the Best Managed Indonesian Corporation

OBJECTIVES
To achieve the leading position by strengthening our legacy business and growing new wave businesses to gain 60% of the industry revenue in 2015.


Nama Kelompok :
Aldinuari Prastyo (30111555)
Chrisna Dwi Putera (31111643)
Devy Heryanti (31111947)
Dyah Sobita (32111297)
Ranti Cah (35111883)



Refrensi :


Rabu, 21 November 2012

Perusahaan yang Mengikuti Aturan SIM

PT. ASABRI (PERSERO)

PT ASABRI (Persero) adalah Badan Usaha MIlik Negara yang berdiri pada tanggal 1 Agustus 1971, dimana pada awalnya berada di bawah Menteri Keuangan (Menkeu) yang mewakili Pemerintah selaku Pemegang Saham Negara dan juga sebagai Pembina dan Pengawas Usaha Perasuransian. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1998 dan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2001 selaku Pemegang Saham Negara dialihkan dari Menteri Keuangan ke Menteri Negara BUMN.

ASABRI diselenggarakan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 44 Tahun 1971 tentang Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata dan PP No. 45 Tahun 1971 tentang Pendirian Perusahaan Umum Asuransi ABRI yang didalamnya diatur pendirian dan tugas-tugas Perum ASABRI sebagai penyelenggara pelayanan ASABRI. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, mengingat upaya peningkatan efisiensi dan efektifitas perusahaan, maka pada tahun 1991, berdasarkan PP Nomor 68 Tahun 1991, status Perum ASABRI diubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).

Tujuan Perusahaan:
Turut melaksanakan dan menunjang kebijakan serta program Pemerintaha di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya di bidang asuransi sosial melalui penyelengggaraan asuransi atau jaminan sosial di lingkungan Dephan, TNI AD, TNI AL, TNI AD, TNI AU dan Polri untuk menghasilkan jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saling kuat, guna meningkatkan nilai manfaat bagi peserta dan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

Sistem yang digunakan adalah sistem terbuka, karena perusahaan tersebut milik BUMN yang bersifat terbuka.


http://tugas-dyah.blogspot.com/2012/01/manajemen-umum-tugas-3_1422.html


Implementasi Sistem Terbuka dan Tertutup


                       Sistem Terbuka merupakan sistem yang terpengaruh dengan lingkungan luar, karena sistem ini dituntut untuk menghasilkan output kepada pihak luar.
Contoh:
PT ASABRI (Persero) adalah Badan Usaha MIlik Negara yang berdiri pada tanggal 1 Agustus 1971, dimana pada awalnya berada di bawah Menteri Keuangan (Menkeu) yang mewakili Pemerintah selaku Pemegang Saham Negara dan juga sebagai Pembina dan Pengawas Usaha Perasuransian. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1998 dan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2001 selaku Pemegang Saham Negara dialihkan dari Menteri Keuangan ke Menteri Negara BUMN.

v                 Sistem Tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan dengan pihak luar karena sistem ini bekerja secara otomatis.
Contoh:
Perusahaan tertutup adalah perusahaan yang saham2 tidak tercatat dan tidak diperdagangkan di bursa saham. Perusahaan ini biasanya semacam “CV”, “CV” merupakan perusahaan yang masih dikelolah secara mandiri dan tidak terlalu dituntut tranparansi seperti perusahan (PT) terbuka.
  

Refrensi

Jumat, 15 Juni 2012

Jenis dan sumber konflik

     A.      Pengertian dan sumber konflik
Dalam sebuah organisasi terdiri dari bagian-bagian yang berbeda-beda atau departemen yang saling bekerjasama dan tergantung satu sama lain. Kenapa tergantung?? Karena tidak mungkin setiap bagian tidak membutuhkan bagian lain (tanpa bantuan orang lain).
Konflik ini timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya- sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja, bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai dan persepsi. Konflik biasanya timbul dalam organisasi sebagai hasil adanya masalah-masalah komunikasi, hubungan pribadi, atau struktur organisasi. Konflik organisasi adalah perbedaan pendapat atau argument serta ketidaksesuaian disetiap anggota kelompoknya,
Berdasarkan dampaknya pada organisasi, konflik dapat dibedakan menjadi 2, yaitu konflik fungsional dan konflik disfungsional (Ivan et. al., 2007):
1.       Konflik fungsional (Functional conflict)
Pertentangan antar kelompok yang dapat meningkatkan kinerja organisasi. Misalnya, dua departemen dalam sebuah hotel memperdebatkan cara yang  paling efektif dan efisien dalam memberikan pelayanan yang memuaskan kepada para tamu hotel. Kedua departemen tersebut memiliki tujuan yang sama, tetapi caranya berbeda. Perbedaan pandangan mengenai cara mencapai tujuan tersebut , dapat meningkatkan kesadaran organisasi tehadap masalah yang harus diatasi, mendorong pencarian solusi yang lebih produktif, memfasilitasi terjadinya perubahan yang positif, adaptif dan inovatif
2.       Konflik disfungsional (Dysfuntional conflict)
Pertentangan atau interaksi antar kelompok yang menganggu kinerja atau tujuan organisasi. Tidak jarang konflik yang semula bersifat fungsional menjadi konflik yang disfungsional. Pimpinan organisasi harus mencari cara agar konflik disfungsional ini tidak terjadi.

B.      Jenis- jenis Konflik
Ada 5 jenis konflik dalam kehidupan organisasi :
1.       Konflik dalam diri individu Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
2.       Konflik antar individu dalam organisasi yang sama karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
3.       Konflik antar individu dan kelompok seringkali berhubungan dengan cara individumenghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
4.       Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasiorganisasi.Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja.
5.       Konflik antar organisasi konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.

sumber:
http://tugas-dyah.blogspot.com/
Drs. Sunyoto, Danang, SE., SH., MM dan Burhanudin, SE., M.Si. 2011. Perilaku Organisasional. Yogyakarta : caps

Kamis, 19 April 2012

Dinamika Konflik

Dalam sebuah organisasi terdiri dari beberapa anggota yang satu sama lainnya saling membutuhkan. Dengan adanya saling membutuhkan satu sama lainnya mengakibatkan setiap anggotanya akan menjadi saling tergantung dengan anggota yang lainnya, sehingga akan menyebakan konflik. Konflik ini biasa terjadi karena adanya perbedaan tujuan atau perbedaan pendapat sehingga setiap anggotanya akan bertentengan.
Konflik berasal dari kata Conligere (bahasa latin) yang berarti menyerang bersama-sama, menurut Mitchell ( 1981) Konflik adalah sebuah situasi dalam mana dua orang atau lebih saling mencapai tujuan-tujuan yang dikehendakinya tetapi hanya salah satu yang berhasil mencapainya.
Adapun mengenai jenis-jenis konflik, dikelompokkan sebagai berikut :
·       Person rile conflict   : konflik peranan yang terjadi didalam diri seseorang.
·    Inter rule conflict   : konflik antar peranan, yaitu persoalan timbul karena satu orang menjabat satu atau lebih fungsi yang saling bertentangan.
·    Intersender conflict  : konflik yang timbuk karena seseorang harus memenuhi harapan beberapa orang.
·       Intrasender conflict  : konflik yang timbul karena disampaikannya informasi yang saling bertentangan.
Selain pembagian jenis konflik di atas masih ada pembagian jenis konflik yang dibedakan menurut pihak-pihak yang saling bertentangan, yaitu :
·         Konflik dalam diri individu
·         Konflik antar individu
·         Konflik antar individu dan kelompok
·         Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama
·         Konflik antar organisasi
Konflik dapat berdampak positif maupun negatif terhadap kinerja organisasi, tergantung pada konflik itu sendiri seberapa sering terjadi dan bagaimana konflik dikelola. Konflik yang terlalu tinggi atau terlalu rendah bersifat disfungsional, sedangkan konflik yang optimal atau seimbang akan bersifat fungsional. Perbedaan konflik fungsional dan disfungsional terletak pada apakah tujuan atau kebutuhuan organisasai akan tercapai atau tidak.
Konflik fungsional adalah tipe konflik yang mendukung pencapaian tujuan dan sasaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan kinerja dalam sebuah organisasi yang dijalankan. Sedangkan konflik disfungsional adalah tipe konflik yang dapat memnghambat kinerja dalam organnisasi sehingga konflik ini tidak diinginkan oleh pimpina organisasi dan sebaiknya dihilangkan (Kreitner dan Kinicki, 2005).

Sumber:
Drs. Sunyoto, Danang, SE., SH., MM dan Burhanudin, SE., M.Si. 2011. Perilaku Organisasional. Yogyakarta : caps

Minggu, 08 April 2012

ORGANISASI

Organisasi adalah tempat dimana setiap individu berkumpul menjadi satu dan membentuk sebuah kelompok untuk bekerjasama satu sama lain dan mendirikan suatu tujuan serta sasaran yang sama. Setiap individu dalam sebuah organisasi saling bergantung (membutuhkan) satu dengan yang lainnya, agar sebuah organisasi bisa berjalan dengan baik.
Ciri-ciri Organisasi:
1.      Kerjasama yang baik antar individu
2.      Adanya atasan dan bawahan
3.      Tujuan dan sasaran yang sama
4.      Ada tugas-tugas yang telah ditentukan untuk setiap individu
5.      Adanya sebuah tata tertib yang harus ditaati setiap individu agar sebuah organisasi dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang ditujukan
Menurut Berelson dan Steiner(1964:55) sebuah organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Formalitas, merupakan ciri organisasi sosial yang menunjuk kepada adanya perumusan tertulis daripada peratutan-peraturan, ketetapan-ketetapan, prosedur, kebijaksanaan, tujuan, strategi, dan seterusnya.
2.      Hierarkhi, merupakan ciri organisasi yang menunjuk pada adanya suatu pola kekuasaan dan wewenang yang berbentuk piramida, artinya ada orang-orang tertentu yang memiliki kedudukan dan kekuasaan serta wewenang yang lebih tinggi daripada anggota biasa pada organisasi tersebut.
3.      Besarnya dan Kompleksnya, dalam hal ini pada umumnya organisasi sosial memiliki banyak anggota sehingga hubungan sosial antar anggota adalah tidak langsung (impersonal), gejala ini biasanya dikenal dengan gejala “birokrasi”.
4.      Lamanya (duration), menunjuk pada diri bahwa eksistensi suatu organisasi lebih lama daripada keanggotaan orang-orang dalam organisasi itu.


Sumber:
zeincom.wordpress.com/2011/10/22/cuoto/